Loading...

13 June 2011

Pengaruh Budaya Sekolah dan Motivasi Kerja Guru Terhadap Mutu Pendidikan

Ade Suherman, M.Pd.

A. Latar Belakang Masalah

Salah satu masalah yang sangat serius dalam pendidikan di tanah air kita saat ini adalah rendahnya mutu pendidikan di berbagai jenis dan jenjang pendidikan. Banyak pihak berpendapat bahwa rendahnya mutu pendidikan

merupakan salah satu faktor yang menghambat penyediaan sumber daya manusia yang mempunyai keahlian dan keterampilan untuk memenuhi tuntutan pembangunan bangsa di berbagai bidang.

Menurut Depdiknas, masalah utama mutu pendidikan di Indonesia meliputi bidang akademik maupun non akademik. Di bidang akademik hal ini tercermin dari rendahnya nilai rata rata hasil ujian nasional. Berbagai hasil survei yang dilakukan oleh lembaga internasional juga menempatkan prestasi siswa Indonesia pada posisi bawah. Terakhir, hasil survei TIMSS 2003 (Trends in International Mathematics and Sciencies Study) di bawah payung International Association for Evaluation of Educational Achievement (IEA) menempatkan Indonesia pada posisi ke-34 untuk bidang matematika dan pada posisi ke-36 untuk bidang sains dari 45 negara yang disurvei. Di bidang non akademik yaitu terlihat dari rendahnya moral dan disiplin, kemandirian serta kreatifitas masih rendah dan minimnya prestasi di bidang olah raga dan seni (Depdiknas, 2005).

Kualitas pendidikan sebagai salah satu pilar pengembangan sumber daya manusia (SDM), bermakna strategis bagi pembangunan nasional. Artinya, masa depan bangsa sangat bergantung kepada kualitas pendidikan masa kini, dan pendidikan berkualitas akan muncul jika pendidikan di level sekolah juga berkualitas.

Kenyataannya, dalam dua dasa warsa terakhir ini kualitas pendidikan secara nasional masih belum menunjukkan tanda-tanda menggembirakan. Dalam konteks pendidikan, pengertian kualitas mengacu kepada proses pendidikan dan hasil pendidikan (Umaedi, 2006:83).

Kualitas/mutu dalam pengertian proses, terkait dengan masih belum meratanya fasilitas yang dimiliki sekolah seperti bahan ajar, sarana sekolah, dukungan administrasi dan sumber daya lainnya. Kualitas dalam pengertian hasil pendidikan (sampai jenjang sekolah menengah), tercermin dalam perolehan rata-rata hasil ujian yang belum sesuai harapan serta sebagian besar lulusan kurang memiliki kesiapan untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi atau memasuki dunia kerja. Menyangkut kemampuan dan sikap mental yang kurang memadai.

Menurut Husaini Usman ada 3 faktor penyebab rendahnya mutu pendidikan di tanah air, yaitu;

1) kebijakan dan penyelenggaraan pendidikan nasional menggunakan pendekatan educational production function atau input input analisis tidak konsisten; 2) penyelenggaraan pendidikan secara sentralistik; 3) peran serta masyarakat khususnya orang tua siswa dalam penyelenggaraan pendidikan sangat minim (Usman, 2002:18).

Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah untuk meningkatkan mutu pada semua jenjang pendidikan, namun demikian berbagai indikator

mutu pendidikan belum menunjukan peningkatan mutu secara merata. Untuk itu diperlukan langkah dan tindakan nyata ditingkat sekolah dan masyarakat sekitar tempat sekolah berada. Ada dua srtategi utama yang dapat dilakukan dalam meningkatkan dan mengembangkan mutu sekolah, yaitu strategi yang berfokus pada: (1) dimensi struktural; dan (2) dimensi kultural (budaya) dengan tekanan pada perubahan perilaku nyata dalam bentuk tindakan (Depdiknas, 2003: 1).

Program aksi untuk peningkatan kualitas sekolah secara konvensional senantiasa bertumpu pada peningkatan kualitas proses belajar mengajar (PBM), sedikit menyentuh aspek aspek budaya sekolah. Pilihan tentu tidak salah, karena aspek itulah yang berkait dengan prestasi siswa. Namun bukti menunjukkan yang dikemukakan Hanushek, sasaran peningkatan kualitas pada aspek PBM saja tidak cukup. Upaya peningkatan kualitas sekolah harus dimulai dari dari internal sekolah itu sendiri yaitu harus memperhatikan nilai nilai yang hidup sebagai budaya sekolah (Hanushek, 2000:120).

Rendahnya mutu pendidikan terkait dengan kebijakan yang dipakai oleh pemerintah dalam membangun pendidikan, yang selama ini lebih menekankan pada dimensi struktural dengan pendekatan input-output. Pemerintah berkeyakinan bahwa dengan meningkatkan mutu input maka dengan sendirinya akan dapat meningkatkan mutu output. Dengan keyakinan tersebut, kebijakan dan upaya yang ditempuh pemerintah adalah pengadaan sarana dan prasarana pendidikan, pengadaan guru, menatar para guru, dan menyediakan dana operasional pendidikan secara memadai. Kenyataan tersebut memberikan gambaran umum bahwa pendekatan input-output secara makro belum menjamin peningkatan mutu sekolah dalam rangka meningkatkan dan memeratakan mutu pendidikan. Hal ini tidak saja terjadi di Indonesia tetapi juga terjadi di negara-negara lain. Hasil penelitian untuk sekolah dasar negeri di Amerika Serikat dan Inggris menunjukan bahwa input sekolah mempunyai pengaruh yang kecil terhadap prestasi belajar siswa. Scheerns (Koster, 2001: 1).

Pendekatan input-output yang bersifat makro tersebut kurang memperhatikan aspek yang bersifat mikro yaitu proses yang terjadi di sekolah. Dengan kata lain, dalam membangun pendidikan, selain memakai pendekatan makro juga perlu meperhatikan pendekatan mikro yaitu dengan memberikan fokus secara luas pada institusi sekolah yang berkenaan dengan kondisi keseluruhan sekolah seperti budaya sekolah dan individu-individu yang terlibat di sekolah baik guru, siswa, dan kepala sekolah serta peranannya masing-masing dan hubungan yang terjadi satu sama lain. Dalam kaitan ini, Brookover (Koster, 2001: 2) mengungkapkan bahwa input sekolah memang penting tetapi yang jauh lebih penting adalah bagaimana mendayagunakan input tersebut yang terkait dengan individu-individu di sekolah.

Menurut Depdikbud (1999: 10), “Sekolah sebagai sebuah sistem memiliki tiga aspek pokok, yang erat kaitannya dengan kualitas sekolah,yakni proses belajar mengajar, kepemimpinan, manajemen sekolah, serta budaya sekolah”.

Keberhasilan sebuah lembaga pendidikan tidak hanya didukung oleh lengkapnya sarana dan prasarana, guru yang berkualitas ataupun input siswa yang baik, tetapi budaya sekolah sangat berperan terhadap peningkatan keefektifan sekolah. Menurut Mayer dan Rowen dalam Jamaluddin (2008:24) budaya sekolah merupakan jiwa (spirit) sebuah sekolah yang memberikan makna terhadap kegiatan kependidikan sekolah tersebut, jika budaya sekolah lemah, maka ia tidak kondusif bagi pembentukan sekolah efektif. Sebaliknya budaya sekolah kuat maka akan menjadi fasilitator bagi peningkatan sekolah efektif.

Menurut Bears,et.al (2002:172 ) setiap lembaga pendidikan, sebagai mana setiap individu dalam sebuah lembaga pendidikan berbeda antara satu sama lain. Seperti layaknya manusia, sebuah sekolah memiliki getaran dan jiwa sendiri. Masing-masing mengespresikan rasa sendiri yang penting berbeda satu sama lainnya. Getaran tersebut berasal dari lingkungan sekolah yang gilirannya menciptakan budaya sebuah lembaga pendidikan.

Dari uraian tersebut, maka dapat memberikan pemahaman bahwa budaya organisasi sekolah akan dapat menjelaskan bagaimana sekolah berfungsi, seperti apakah mekanisme internal sekolah yang terjadi, karena para warga sekolah masuk ke sekolah dengan bekal budaya yang mereka miliki, sebagian bersifat positif, yaitu yang mendukung peningkatan kualitas pembelajaran. Namun ada yang negatif, yaitu yang menghambat usaha peningkatan kualitas pembelajaran.

Menurut Depdiknas, elemen penting budaya sekolah adalah norma, keyakinan, tradisi, upacara keagamaan, seremoni dan mitos yang diterjemahkan oleh sekelompok orang tertentu, Hal ini dapat dilihat dari kebiasaan -kebiasaan yang dilakukan warga sekolah terus menerus (Depdiknas,2003: 1).

Perbaikan sistem persekolahan pada intinya adalah membangun sekolah dengan kekuatan utama sekolah yang bersangkutan. Perbaikan mutu sekolah perlu adanya pemahaman terhadap budaya sekolah. Melalui pemahaman terhadap budaya sekolah, maka berfungsinya sekolah dapat dipahami, aneka permasalahan dapat diketahui, dan pengalaman-pengalamannya dapat direfleksikan. Oleh sebab itu, dengan memahami ciri-ciri budaya sekolah akan dapat diusahakan tindakan nyata peningkatan mutu sekolah.

Budaya sekolah bersifat dinamik, milik kolektif, merupakan hasil perjalanan sejarah sekolah, produk dari interaksi berbagai kekuatan yang masuk ke sekolah (Depdiknas, 2004: 2).

Komponen yang terkait dengan mutu pendidikan yang termuat dalam buku Panduan Manajemen Sekolah adalah;

1) siswa : kesiapan dan motivasi belajarnya, 2) guru : kemampuan profesional, moral kerjanya (kemampuan personal), dan kerjasamanya (kemampuan sosial). 3) kurikulum : relevansi konten dan operasionalisasi proses pembelajarannya, 4) dan, sarana dan prasarana : kecukupan dan keefektifan dalam mendukung proses pembelajaran, 5) Masyarakat (orang tua, pengguna lulusan) : partisipasinya dalam pengembangan program-program pendidikan sekolah, (Depdiknas,2000: 191).

Guru sebagai komponen sekolah memiliki peranan penting bahkan disebut

sebagai ujung tombak keberhasilan pendidikan. Dalam proses pendidikan Guru menempati posisi yang strategis dan peranan kunci dalam kegiatan proses belajar mengajar, artinya Guru harus mampu memberi bantuan kepada siswa untuk memperoleh pengetahuan dan ketrampilan sesuai tujuan pendidikan. Guru merupakan fasilitator atau informasi yang diperlukan siswa, ia berperan besar membina siswa untuk memiliki sikap mental dan intelektual yang baik.

Guru merupakan faktor yang sangat dominan dan paling penting dalam pendidikan formal pada umumnya, seperti yang dikemukakan oleh Cecewijaya dan Tabrani Rusyam, (1992: 2), bahwa “ Guru merupakan pendidik dan pengajar tokoh teladan bahkan tokoh identifikasi diri, Oleh karena itu Guru seyogyanya mempunyai perilaku yang memadai untuk dapat mengembangkan diri siswa secara utuh”.

Hasil Penelitian Pusat Informatika Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, menunjukkan bahwa Guru yang berkualitas mempunyai hubungan dengan kualitas pendidikan (Depdikbud,1994: 64). Oleh karena itu betapa pentingnya pembinaan profesional Guru secara terarah dan terprogram untuk meningkatkan kemampuan dan gairah mengajarnya, sehingga penampilan mengajarnya dapat lebih efektif dan efisien.

Namun hal ini tidak terlepas dari motivasi kerja Guru itu sendiri dan bagaimana kepemimpinan Kepala Sekolah tersebut dijalankan dengan baik. Motivasi kerja Guru juga dipengaruhi oleh banyak unsur antara lain : cita-cita / aspirasi, kemampuan Guru, kondisi individu/lingkungan serta upaya-upaya pembinaan yang dilakukan oleh Kepala Sekolah.

Selain faktor motivasi Guru dan kepemimpinan sekolah, faktor lain yang mempengaruhi kinerja Guru adalah lingkungan kerja. Lingkungan kerja merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap kinerja Guru. Jika guru merasakan suasana kerja yang kondusif di sekolahnya, maka diharapkan kinerja guru akan meningkat, dan jika kinerja guru meningkat maka siswa akan mencapai prestasi akademik yang memuaskan. Kekondusifan lingkungan kerja suatu sekolah mempengaruhi sikap dan tindakan seluruh komunitas tersebut, khususnya pada pencapaian prestasi akademik siswa. Selain itu prestasi akademik siswa dipengaruhi sangat kuat oleh suasana kejiwaan atau iklim kerja sekolah (Wahyudi, 2004: 5). Dapat diartikan bahwa lingkungan pembelajaran di kelas maupun di sekolah mempengaruhi baik langsung maupun tidak langsung terhadap keberhasilan proses kegiatan belajar mengajar.

Pendidikan yang bermutu dan berkualitas tentunya akan menghasilkan sumber daya manusia yang dapat mengoptimalkan potensi sumber daya lainnya yang ada. Kualitas pendidikan dan lulusan seringkali dipandang tergantung kepada peran guru dalam pengelolaan komponen-komponen pengajaran yang digunakan dalam proses belajar mengajar, yang menjadi tanggung jawab sekolah. Oleh sebab itu, tugas yang berat dari seorang guru ini pada dasarnya hanya dapat dilaksanakan oleh guru yang memiliki kinerja yang tinggi. Menurut Hanafiah (2000:52), terdapat berbagai faktor yang mempengaruhi kinerja, yaitu motivasi, budaya sekolah, gaya kepemimpinan, fasilitas kerja dan sebagainya. Namun dalam praktek pengambilan kebijakan dalam upaya peningkatan kwalitas pendidikan jarang sekali yang memperhatikan motivasi kerja. Motivasi akan timbul dalam diri guru apabila ada perhatian, kesesuaian, kepercayaan dan kepuasan yang diberikan kepala sekolah, serta komunikasi yang lancar antara guru dan kepala sekolah dan guru dengan guru, akan dapat meningkatkan kinerja. Motivasi kerja guru pada khususnya merupakan salah satu faktor yang sangat berpengaruh terhadap kualitas mutu sekolah.

Masalah-masalah yang dihadapi dalam upaya peningkatan mutu pendidikan sebagaimana dikemukakan oleh Hanafiah dkk antara lain : pertama sikap mental para pengelola pendidikan, baik yang memimpin maupun yang dipimpin. Yang dipimpin bergerak karena perintahï atasan, bukan karena rasa tanggung jawab. Yang memimpin sebaliknya, tidak memberi kepercayaan, tidak memberi kebebasan berinisiatif, mendelegasikan wewenang dan sebagainya.

Masalah kedua adalah gaya kepemimpinan yang tidak mendukung. Pada umumnya pimpinan tidak menunjukkan pengakuan dan penghargaan terhadap keberhasilan kerja stafnya, hal ini menyebabkan staf bekerja tanpa motivasi. Masalah ketiga adalah kurangnya rasa memiliki pada para pelaksana pendidikan. Perencanaan strategis yang kurang dipahami para pelaksana, dan komunikasi dialogis yang kurang terbuka. Prinsip melakukan sesuatu secara benar dari awal belum membudaya. Pelaksanaan pada umumnya akan membantu suatu kegiatan, kalau sudah ada masalah yang timbul. Hal inipun merupakan kendala yang cukup besar dalam peningkatan dan pengendalian mutu (Hanafiah dkk, 2000: 8).

Berdasarkan pengamatan penulis di lapangan, permasalahan yang berkaitan dengan budaya sekolah dan motivasi kerja guru dalam upaya peningkatan mutu pendidikan pada SMP di wilayah Kecamatan Cigalontang Kabupaten Tasikmalaya, antara lain adalah:

1) Banyak guru yang sudah terbiasa tidak disiplin dalam melaksanakan tugasnya, hal ini dapat dilihat dari fakta bahwa sebagian besar guru tidak tertib ketika mengawali dan mengakhiri kegiatan belajar mengajar (KBM) sehingga jam belajar efektif menjadi berkurang.

2) Sebagian besar guru memperlihatkan sikap disiplin hanya jika kepala sekolah hadir di sekolah, dan jika mengetahui kepala sekolah tidak hadir di sekolah mereka merasa bebas dan cenderung kemudian menjadi tidak disiplin. Hal ini menunjukkan bahwa motivasi kerja guru menjadi sangat rendah ketika mereka tanpa diawasi oleh kepala sekolah, keadaan ini menjadi lebih parah lagi jika kepala sekolah sering tidak hadir di sekolah dengan alasan kegiatan dinas di luar ataupun karena alasan lain yang tidak jelas. Artinya sebagian besar guru lebih loyal pada pimpinanya daripada loyalitasnya pada profesinya, mereka malaksanakan tugas hanya sekedar untuk mengugurkan kewajiban dan menikmati status quo.

3) Banyak sekolah sering mengadakan kegiatan-kegiatan insidental dengan mengorbankan jam-jam belajar efektif, seperti rapat guru, melayat, kegiatan perlombaan-perlombaan dan kegiatan-kegiatan sosial lainya, hal ini tentu semakin mengurangi jam belajar efektif siswa.

4) Banyak guru yang sering ijin tidak masuk sekolah tanpa memberikan tugas kepada siswa bahkan banyak guru yang meninggalkan tugas tanpa keterangan, keadaan ini diperparah dengan kurang berfungsinya guru piket pada banyak sekolah. Akibat lebih jauh yaitu kelas yang kosong tersebut menganggu terhadap kelas yang lain sehingga suasana kegiatan belajar mengajar menjadi kurang kondusif.

5) Mutu pendidikan khususnya tingkat SMP se-wilayah kecamatan Cigalontang dilihat dari nilai rata-rata ujian akhir sekolah dan nasional masih rendah.

Dengan adanya era otonomi daerah yang sedang berjalan maka kebijakan strategis yang diambil Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah dalam meningkatkan mutu pendidikan untuk mengembangkan SDM adalah:

(1) Manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah (school based management) dimana sekolah diberikan kewenangan untuk merencanakan sendiri upaya peningkatan mutu secara keseluruhan; (2) Pendidikan yang berbasiskan pada partisipasi komunitas (community based education) di mana terjadi interaksi yang positif antara sekolah dengan masyarakat, sekolah sebagai community learning center; dan (3) Dengan menggunakan paradigma belajar atau learning paradigm yang akan menjadikan pelajar-pelajar atau learner menjadi manusia yang diberdayakan, (Depdiknas,2000: 191).

Selain itu pada tanggal 2 Mei 2002, bertepatan hari pendidikan nasional, pemerintah telah mengumumkan suatu gerakan nasional untuk peningkatan mutu pendidikan.

Tuntutan akan lulusan lembaga pendidikan yang bermutu makin mendesak karena semakin ketatnya persaingan dalam lapangan kerja. Salah satu implikasi globalisasi dalam pendidikan yaitu adanya deregulasi yang membuka peluang lembaga pendidikan asing membuka sekolahnya di Indonesia. Oleh karena itu persaingan di pasar kerja akan semakin berat. Mengantisipasi perubahan perubahan yang begitu cepat serta tantangan yang semakin besar dan kompleks, tiada jalan lain bagi lembaga pendidikan untuk mengupayakan segala cara untuk meningkatkan daya saing lulusan serta produk-produk akademik lainnya, yang antara lain dapat dicapai melalui peningkatan mutu pendidikan.
Berdasarkan latar belakang penelitian di atas, penulis bermaksud mengadakan penelitian dengan judul: “PENGARUH BUDAYA SEKOLAH DAN MOTIVASI KERJA GURU TERHADAP MUTU PENDIDIKAN” (Studi Deskriptif Analitik pada Sekolah Menengah Pertama di wilayah Kecamatan Cigalontang Kabupaten Tasikmalaya) ini dipandang perlu dan cukup penting untuk dilaksanakan.

B. Identifikasi dan Rumusan Masalah

Seperti telah disebutkan pada latar belakang di atas, bahwa mutu pendidikan dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain; 1) sarana dan prasarana yang dimiliki sekolah; 2) input siswa, yaitu ketersediaan dan kesiapan peserta didik ; 3) kebijakan dalam penyelenggaraan pendidikan; 4) peran serta masyarakat; 5) kualitas PBM; 6) lingkungan kerja; 7) kepemimpinan Kepala Sekolah; 8) motivasi kerja Guru; 9) kualitas Guru; 10) manajemen sekolah; 11) budaya sekolah dan lain lain.

Dari sekian banyak faktor di atas, dua faktor yang akan di teliti dalam penelitian ini adalah budaya sekolah dan motivasi kerja guru. Kedua faktor tersebut diprediksi lebih dominan dalam mempengaruhi mutu pendidikan, Meskipun demikian faktor-faktor lainya juga memegang peranan yang strategis.

Bertolak dari konsekwensi seperti tersebut di atas, identifikasi masalah penelitian ini menjadi jelas, yakni;

1) Banyak sekolah di wilayah kecamatan Cigalontang yang memiliki budaya sekolah yang kurang baik, hal ini terlihat dari banyaknya guru memiliki kebiasaan kebiasaan seperti; tidak disiplin waktu, adanya kelompok kelompok dalam sekolah, memperlihatkan ketaatan dan loyalitas terhadap sekolah hanya jika ada kepala sekolah dan sebagainya.

2) Rata rata guru pada SMP di wilayah kecamatan Cigalontang motivasi kerjanya cukup rendah, hal ini dapat dilihat dari kebanyakan guru melaksanakan tugas hanya sekedar untuk menggugurkan kewajiban saja, mereka kurang memiliki inovasi inovasi dan kreatifitas dalam mengajar dan kurang memiliki semangat berkompetisi untuk berprestasi,

3) Mutu pendidikan pada level SMP di wilayah kecamatan Cigalontang dilihat dari nilai rata-rata UAN dan UAS dalam 5 tahun terakhir relatif rendah dan dan tidak menunjukkan peningkatan yang signifikan dari tahun ketahun. Hal ini dapat di asumsikan bahwa pada sekolah sekolah tersebut tidak ada perubahan perubahan yang berarti, khususnya mengenai budaya sekolah dan motivasi kerja gurunya untuk meningkatkan mutu pendidikan.

C. Rumusan Masalah Penelitian

Untuk membatasi masalah-masalah tersebut, maka dirumuskan sebagai berikut:

1) Bagaimana pengaruh budaya sekolah terhadap mutu pendidikan?

2) Bagaimana pengaruh motivasi kerja guru terhadap mutu pendidikan?

3) Bagaimana pengaruh budaya sekolah dan motivasi kerja guru secara bersama sama terhadap mutu pendidikan?

D. Tujuan Penelitian

Penelitian ini dimaksudkan untuk mengungkap sejauh mana pengaruh budaya sekolah juga motivasi kerja guru terhadap mutu pendidikan pada sekolah menengah pertama yang ada di wilayah kecamatan Cigalontang. Peneliti berharap hasil penelitian ini nantinya dapat dijadikan pertimbangan bagi pihak-pihak terkait dalam meningkatkan mutu pendidikan di wilayah kecamatan Cigalontang khususnya dan di Kabupaten Tasikmalaya pada umumnya, yang dirumuskan dalam pernyataan sebagai berikut:

1) Untuk mengungkap tentang seberapa besar pengaruh budaya sekolah terhadap mutu pendidikan pada SMP di wilayah Kecamatan Cigalontang Kabuapaten Tasikmalaya;

2) Untuk mengungkap tentang seberapa besar pengaruh pengaruh motivasi kerja guru terhadap mutu pendidikan pada SMP di wilayah Kecamatan Cigalontang Kabuapaten Tasikmalaya; dan

3) Untuk mengungkap seberapa besar pengaruh budaya sekolah dan motivasi kerja guru secara bersama sama terhadap mutu pendidikan pada SMP di wilayah Kecamatan Cigalontang Kabuapaten Tasikmalaya.

E. Kegunaan Penelitian

Berdasarkan tujuan tersebut diatas maka harapan penulis dalam penelitian ini dapat digunakan secara teoritis dan praktis untuk:

1. Aspek Teoritis

Hasil penelitian ini dipergunakan untuk memberikan sumbangan pemikiran dan gambaran tentang peranan budaya sekolah dan motivasi kerja guru terhadap mutu pendidikan pada SMP di wilayah kecamatan Cigalontang Kabupaten Tasikmalaya, khususnya yang menyangkut tentang kelayakan suatu lembaga pendidikan dalam penyelenggaraan pendidikan yang bermutu.

2. Aspek Praktis.

Secara praktis hasil penelitian dapat dipergunakan untuk :

a. Memberikan informasi yang akurat menyangkut budaya sekolah dan motivasi kerja guru pada SMP di Kecamatan Cigalontang khususnya dan di Kabuapten Tasikmalaya pada umumnya.

b. Memberikan gambaran tentang mutu pendidikan pada SMP di wilayahKecamatan Cigalontang khususnya dan di KabupatenTasikmalaya pada umumnya.

F. Kajian Pustaka

1) Budaya Sekolah

Menurut kamus besar Bahasa Indonesia (Purwadarminta,1953: 46), kata budaya berasal dari bahasa Sansekerta Bodhya yang berarti akal budi, sinonimnya adalah kultur yang berasal dari bahasa Inggris Culture atau Cultuur dalam Bahasa Belanda. Kata Culture sendiri berasal dari bahasa Latin Colere (dengan akar kata “Calo” yang berarti mengerjakan tanah, mengolah tanah atau memelihara ladang dan memelihara hewan ternak).

Budaya adalah suatu hasil dari budi dan atau daya, cipta, karya, karsa, pikiran dan adat istiadat manusia yang secara sadar maupun tidak, dapat diterima sebagai suatu perilaku yang beradab. Dikatakan membudaya bila kontinu, konvergen dan konsentris, (Depdiknas,2007). Lebih lanjut dijelaskan, Budaya sekolah adalah nilai-nilai dominan yang didukung oleh sekolah atau falsafah yang menuntun kebijakan sekolah terhadap semua unsur dan komponen sekolah termasuk stakeholders pendidikan, seperti cara melaksanakan pekerjaan di sekolah serta asumsi atau kepercayaan dasar yang dianut oleh personil sekolah, (Depdiknas,2007).

Berdasarkan pengertian diatas dapat dipahami bahwa budaya sekolah merujuk pada suatu sistem nilai, kepercayaan dan norma-norma yang diterima secara bersama, serta dilaksanakan dengan penuh kesadaran sebagai perilaku alami, yang dibentuk oleh lingkungan yang menciptakan pemahaman yang sama diantara seluruh unsur dan personil sekolah baik itu kepala sekolah, guru, staf, siswa dan jika perlu membentuk opini masyarakat yang sama dengan sekolah.

Tipe tipe budaya sekolah dan karakteristiknya

Menurut Dickson (2005:14) menjelaskan bahwa: “…Dalam praktik di lapangan, ada tiga model budaya sekolah, yang satu dengan yang lain dapat dibedakan, tetapi kadang-kadang juga sering saling tumpang tindih. Pertama, budaya sekolah birokratis (bureaucratic school culture). Model budaya sekolah ini antara lain ditunjukkan adanya budaya yang menekankan adanya petunjuk dari atasan. Kebijakan sekolah mengikuti arahan dari atasan, dan oleh karena itu para guru lebih banyak mengikuti arahan tersebut. Pendidik juga kurang dapat berinteraksi dengan orangtua siswa dan masyarakat, karena semua harus mengikuti peraturan dan ketentuan dari atasan. Kedua, budaya sekolah racun (toxic school culture). Dalam model ini, peserta diddik dipandang sebagai masalah ketimbang sebagai pihak yang harus dilayani. Bentuk-bentuk kekerasan guru terhadap siswa yang sering kita dengar akhir-akhir ini merupakan hasil dari budaya sekolah yang seperti ini. Sama dengan pada model budaya sekolah yang birokratis, budaya sekolah racun ini juga malah jarang memberikan kesempatan kepada pendidik untuk memberikan masukan terhadap upaya pemecahan masalah yang terjadi di sekolah. Ketiga, budaya sekolah kolegial (collegial school culture). Berbeda dengan kedua budaya sekolah sebelumnya, sekolah sangat memberikan apresiasi dan rekognisi terhadap peran dan dukungan dari semua pihak. Kejujuran dan komunikasi antarwarga sekolah dapat berlangsung secara efektif. Itulah sebabnya keterlibatan semua warga sekolah sangat dihargai dalam proses pengambilan keputusan dan kebijakan sekolah. Pendek kata, semua penyelenggaraan sekolah direncanakan, dilaksanakan secara demokratis, dalam suasana penuh kolegial.

Budaya Organisasi di Sekolah

Dengan memahami konsep tentang budaya organisasi sebagaimana telah diutarakan di atas, selanjutnya di bawah ini akan diuraikan tentang budaya dalam konteks persekolahan. Secara umum, penerapan konsep budaya organisasi di sekolah sebenarnya tidak jauh berbeda dengan penerapan konsep budaya organisasi lainnya. Kalaupun terdapat perbedaan hanya terletak pada jenis nilai dominan yang dikembangkannya dan karakateristik dari para pendukungnya. Berkenaan dengan pendukung budaya organisasi di sekolah Paul E. Heckman sebagaimana dikutip oleh Stolp (2000:28) mengemukakan bahwa: “...the commonly held beliefs of teachers, students, and principals.”

Nilai-nilai yang dikembangkan di sekolah, tentunya tidak dapat dilepaskan dari keberadaan sekolah itu sendiri sebagai organisasi pendidikan, yang memiliki peran dan fungsi untuk berusaha mengembangkan, melestarikan dan mewariskan nilai-nilai budaya kepada para siswanya. Dalam hal ini, Lashway (2004:70) menjelaskan bahwa: “...Schools are moral institutions, designed to promote social norms,…”.

Nilai-nilai yang mungkin dikembangkan di sekolah tentunya sangat beragam. Jika merujuk pada pemikiran Spranger sebagaimana disampaikan oleh Suryabrata (2006:145), maka setidaknya terdapat enam jenis nilai yang seyogyanya dikembangkan di sekolah. Dalam tabel 2.1 berikut ini dikemukakan keenam jenis nilai dari Spranger beserta perilaku dasarnya.

Tabel 1

Jenis Nilai dan Perilaku Dasarnya menurut Spranger

No

Nilai

Perilaku Dasar

1

Ilmu Pengetahuan

Berfikir

2

Ekonomi

Bekerja

3

Kesenian

Menikmati keindahan

4

Keagamaan

Memuja

5

Kemasyarakatan

Berbakti/berkorban/menghargai

6

Politik/kenegaraan

Berkuasa/memerintah

(Sumber : Suryabrata, 2006)

Dengan merujuk pada pemikiran Luthan dan Schein (2002:140), di bawah ini akan diuraikan tentang karakteristik budaya organisasi di sekolah, yaitu tentang (1) obeserved behavioral regularities; (2) norms; (3) dominant value. (4) philosophy; (5) rules dan (6) organization climate.

1. Obeserved behavioral regularities budaya organisasi di sekolah ditandai dengan adanya keberaturan cara bertindak dari seluruh anggota sekolah yang dapat diamati. Keberaturan berperilaku ini dapat berbentuk acara-acara ritual tertentu, bahasa umum yang digunakan atau simbol-simbol tertentu, yang mencerminkan nilai-nilai yang dianut oleh anggota sekolah.

2. Norms; budaya organisasi di sekolah ditandai pula oleh adanya norma-norma yang berisi tentang standar perilaku dari anggota sekolah, baik bagi siswa maupun guru. Standar perilaku ini bisa berdasarkan pada kebijakan intern sekolah itu sendiri maupun pada kebijakan pemerintah daerah dan pemerintah pusat. Standar perilaku siswa terutama berhubungan dengan pencapaian hasil belajar siswa, yang akan menentukan apakah seorang siswa dapat dinyatakan lulus/naik kelas atau tidak. Standar perilaku siswa tidak hanya berkenaan dengan aspek kognitif atau akademik semata namun menyangkut seluruh aspek kepribadian.

Jika kita berpegang pada Kurikulum Berbasis Kompetensi, secara umum standar perilaku yang diharapkan dari tamatan Sekolah Menengah, diantaranya mencakup :

(1) Memiliki keyakinan dan ketaqwaan sesuai dengan ajaran agama yang dianutnya; (2) Memiliki nilai dasar humaniora untuk menerapkan kebersamaan dalam kehidupan; (3) Menguasai pengetahuan dan keterampilan akademik serta beretos belajar untuk melanjutkan pendidikan; (4) Mengalihgunakan kemampuan akademik dan keterampilan hidup dimasyarakat local dan global; (5) Berekspresi dan menghargai seni; (6) Menjaga kebersihan, kesehatan dan kebugaran jasmani; (7) Berpartisipasi dan berwawasan kebangsaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara secara demokratis. (Depdiknas, 2002).

Sedangkan berkenaan dengan standar perilaku guru, tentunya erat kaitannya dengan standar kompetensi yang harus dimiliki guru, yang akan menopang terhadap kinerjanya. Dalam perspektif kebijakan pendidikan nasional, pemerintah telah merumuskan empat jenis kompetensi guru sebagaimana tercantum dalam Penjelasan Peraturan Pemerintah No 14 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.

Menurut Peraturan Pemerintah No 14 Tahun 2005, standar kemampuan/prilaku guru yaitu :

Kompetensi pedagogik yaitu merupakan kemampuan dalam pengelolaan peserta didik yang meliputi: (a) pemahaman wawasan atau landasan kependidikan; (b) pemahaman terhadap peserta didik; (c) pengembangan kurikulum/ silabus; (d) perancangan pembelajaran; (e) pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis; (f) evaluasi hasil belajar; dan (g) pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya; (2) Kompetensi kepribadian yaitu merupakan kemampuan kepribadian yang: (a) mantap; (b) stabil; (c) dewasa; (d) arif dan bijaksana; (e) berwibawa; (f) berakhlak mulia; (g) menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat; (h) mengevaluasi kinerja sendiri; dan (i) mengembangkan diri secara berkelanjutan; (3) Kompetensi sosial yaitu merupakan kemampuan pendidik sebagai bagian dari masyarakat untuk : (a) berkomunikasi lisan dan tulisan; (b) menggunakan teknologi komunikasi dan informasi secara fungsional; (c) bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orangtua/wali peserta didik; dan (d) bergaul secara santun dengan masyarakat sekitar; dan (4) Kompetensi profesional merupakan kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang meliputi: (a) konsep, struktur, dan metoda keilmuan/teknologi/seni yang menaungi/koheren dengan materi ajar; (b) materi ajar yang ada dalam kurikulum sekolah; (c) hubungan konsep antar mata pelajaran terkait; (d) penerapan konsep-konsep keilmuan dalam kehidupan sehari-hari; dan (e) kompetisi secara profesional dalam konteks global dengan tetap melestarikan nilai dan budaya nasional.

Serangkaian standar prilaku siswa dan guru diatas merupakan harapan ideal atau target tujuan dalam penyelenggaraan pendidikan di tanah air. Meskipun standar prilaku tersebut sulit diukur dengan angka seperti halnya dalam standar nilai ujian nasional misalnya, namun tetap harus ada usaha-usaha yang jelas ,terarah dan berkesinambungan dari semua pihak. Keberhasilan dalam usaha pencapaian target diatas tentunya juga dipengaruhi oleh factor-faktor lainya, misalnya pendidikan agama yang diterima di lingkungan non formal, lingkungan pergaulan siswa atau guru tersebut juga adat dan budaya masyarakat setempat.

2) Motivasi Kerja Guru

Istilah motivasi berasal dari bahasa latin yaitu ‘movere’ yang berarti bergerak atau menggerakkan. Motivasi diartikan juga sebagai suatu kekuatan sumber daya yang menggerakkan dan mengendalikan perilaku manusia. Motivasi sebagai upaya yang dapat memberikan dorongan kepada seseorang untuk mengambil suatu tindakan yang dikehendaki, sedangkan motif sebagai daya gerak seseorang untuk berbuat. Karena perilaku seseorang cenderung berorientasi pada tujuan dan didorong oleh keinginan untuk mencapai tujuan tertentu.

Winardi, (2001:65) membedakan motivasi atas dua klasifikasi yaitu internal dan eksternal “Teori motivasi internal berpusat pada kebutuhan individu, keinginan dan harapannya sebagai kekuatan yang menyusun motivasi. Potensi yang ada pada seorang individu seperti kebutuhan dan keinginan mempengaruhi perilakunya dalam mencapai tujuan dan sasarannya yang selanjutnya berakumulasi kepada pencapaian tujuan dan sasaran kelompok dan organisasi. Motivasi eksternal merupakan gabungan dari faktor-faktor internal dengan faktor-faktor eksternal seperti kebijakan organisasi sebagai penyusunannya”.

Setiap individu dalam kegiatan sehari-harinya tidak terlepas dari keinginan dan kebutuhan tertentu untuk mencapai tujuan. Keinginan dan kebutuhan dalam melakukan aktivitas inilah yang disebut motivasi. Terdapat beberapa pengertian motivasi, yang penulis kutip antara lain sebagai berikut:

a. Motivasi adalah suatu pernyataan yang kompleks dalam suatu organisme yang mengarah pada tingkah laku ke suatu tujuan atau perangsang, (Purwanto, 1990: 6).

b. Motivasi adalah suatu daya yang terdapat dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk melakukan sesuatu, atau keadaan seseorang atau organisme yang menyebabkan kesiapannya untuk memulai serangkaian tingkah laku atau perbuatan, (Usman, 2004: 24).

c. Motivasi adalah daya upaya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu, motivasi dapat dikatakan sebagai daya penggerak dari dalam subjek untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi mencapai suatu tujuan, (Sardiman,1994: 73).

Dari ketiga pendapat ahli diatas secara umum dapat kita ambil persamaan tentang unsur-unsur motivasi yaitu,’ suatu daya/penggerak yang terdapat dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk melakukan sesuatu aktifitas untuk mencapai suatu tujuan’.

Berangkat dari definisi motivasi tersebut, Usman (2004: 24) menyatakan bahwa: “…Motivasi adalah suatu proses untuk menggiatkan motivasi-motivasi menjadi perbuatan atau tingkah laku untuk memenuhi kebutuhan dalam mencapai tujuan”. Motivasi diartikan juga sebagai suatu usaha untuk menciptakan situasi dan kondisi yang memungkinkan individu untuk mengembangkan dan mengaktifkan motivasi-motivasi yang ada dalam diri yang dapat diwujudkan dalam perbuatan atau tingkah laku. Hal ini senada dengan pendapat Sardiman (1994: 12) yaitu: “…Motivasi dapat dikatakan sebagai serangkaian usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi tertentu sehingga seseorang mau dan ingin melakukan sesuatu”.

Motivasi merupakan suatu penggerak yang timbul dari diri seseorang untuk mengembangkan seluruh potensi yang dimilikinya. Hal ini sesuai dengan pendapat Soeharto (1991:53), menyatakan bahwa: …Motivasi adalah inisiatif untuk menggerakkan yang didasarkan atas pengembangan potensi (kesadaran) seseorang itu sendiri untuk melakukan sesuatu”. Pendapat diatas, didukung oleh Rusyan, dkk,(2000: 100), menyatakan bahwa: “...Motivation is energy change within the person carterized by affective arousal and anticipatory goal reactions.” (Motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan).

Faktor-Faktor Timbulnya Motivasi

Motivasi timbul karena dua faktor, yaitu dorongan yang berasal dari dalam manusia (faktor individual atau internal) dan dorongan yang berasal dari luar individu (faktor eksternal). Faktor individual yang biasanya mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu adalah :

1. Minat

Seseorang akan merasa terdorong untuk melakukan suatu kegiatan kalau kegiatan tersebut merupakan kegiatan yang sesuai dengan minatnya.

2. Sikap positif

Seseorang yang mempunyai sifat positif terhadap suatu kegiatan dengan rela ikut dalam kegiatan tersebut, dan akan berusaha sebisa mungkin menyelesaikan kegiatan yang bersangkutan dengan sebaik-baiknya.

3. Kebutuhan

Setiap orang mempunyai kebutuhan tertentu dan akan berusaha melakukan kegiatan apapun asal kegiatan tersebut bisa memenuhi kebutuhannya.

Menurut Devung (2004:106) ada dua faktor utama di dalam organisasi (faktor eksternal) yang membuat karyawan merasa puas terhadap pekerjaan yang dilakukan, dan kepuasan tersebut akan mendorong mereka untuk bekerja lebih baik, kedua faktor tersebut antara lain:

1. Motivator

Motivator adalah prestasi kerja, penghargaan, tanggung jawab yang diberikan, kesempatan untuk mengembangkan diri dan pekerjaannya itu sendiri.

2. Faktor kesehatan kerja

Faktor kesehatan kerja merupakan kebijakan dan administrasi organisasi yang baik, supervisi teknisi yang memadai, gaji yang memuaskan, kondisi kerja yang baik dan keselamatan kerja.

Menurut Wursanto (2006:149) dalam teori pengharapan motivasi kerja seseorang sangat ditentukan tujuan khusus yang akan dicapai orang yang bersangkutan. Harapan yang ingin dicapai karyawan antara lain:

1. Upah atau gaji yang sesuai

Upah atau gaji merupakan imbalan yang diberikan kepada seseorang setelah melakukan suatu pekerjaan. Upah umumnya berupa uang atau materi lainnya. Karyawan yang diberi upah atau gaji sesuai kerja yang dilakukan atau sesuai harapan, membuat karyawan bekerja secara baik dan bersungguh-sungguh. Dengan demikian hasil produksi sesuai target yang ditentukan perusahaan.

2. Keamanan kerja yang terjamin

Karyawan dalam bekerja membutuhkan konsentrasi dan ketenangan jiwa dan dapat diwujudkan dalam bentuk keamanan kerja. Jaminan keselamatan kerja dan asuransi apabila terjadi kecelakaan membuat karyawan bekerja dengan sepenuh hati.

3. Kehormatan dan pengakuan

Kehormatan dan pengakuan terhadap karyawan dapat diberikan dengan penghargaan atas jasa dan pengabdian karyawan. Kehormatan dapat berupa bonus atau cinderamata bagi karyawan yang berprestasi. Sedangkan pengakuan dapat diberikan dengan melakukan promosi jabatan.

4. Perlakuan yang adil

Adil bukan berarti diberikan dengan jumlah sama bagi seluruh karyawan. Perlakuan adil diwujudkan dengan pemberian gaji, penghargaan, dan promosi jabatan sesuai prestasi karyawan. Bagi karyawan yang berprestasi dipromosikan jabatan yang lebih tinggi, sedangkan karyawan yang kurang berprestasi diberi motivasi untuk lebih berprestasi sehingga suatu saat memperoleh promosi jabatan. Uraian tersebut merupakan salah satu perlakuan adil sesuai prestasi karyawan, sehingga karyawan berlomba berprestasi dengan baik.

5. Pimpinan yang cakap, jujur, dan berwibawa

Pimpinan perusahaan merupakan orang yang menjadi motor penggerak bagi perjalanan roda perusahaan. Pimpinan yang memiliki kemampuan memimpin membuat karyawan segan dan hormat. Pimpinan juga dituntut jujur sehingga pimpinan sebagai contoh yang baik bagi karyawan yang dipimpin.

6. Suasana kerja yang menarik

Hubungan harmonis antara pimpinan dan karyawan atau hubungan vertikal membuat suasana kerja baik. Selain itu hubungan harmonis diharapkan juga tercipta antar sesama karyawan (hubungan horizontal). Kedua hubungan baik tersebut menciptakan kondisi kerja harmonis antara pimpinan dengan karyawan dan antara sesama karyawan, sehingga suasana kerja tidak membosankan.

7. Jabatan yang menarik

Jabatan merupakan salah satu kedudukan yang diharapkan karyawan. Promosi jabatan yang berjenjang secara baik dengan berpedoman pada prestasi kerja dan masa kerja membuat karyawan menduduki jabatan dengan jenjang teratur. Penjenjangan menciptakan keadaan kondusif bagi perusahaan.

Dalam kaitanya dengan motivasi kerja guru, menurut Makmum (1996:40) terdapat beberapa prinsip dalam memotivasi kerja guru:

1. Prinsip partisipasi

2. Prinsip komunikasi

3. Prinsip mengakui andil bawahan

4. Prinsip pendelegasian wewenang

5. Prinsip memberi perhatian

Berdasarkan pengertian di atas bahwa dalam upaya memotivasi kerja, pegawai perlu diberikan kesempatan ikut berpartisipasi dalam menentukan tujuan yang akan dicapai oleh pemimpin. Pemimpin mengkomunikasikan segala sesuatu yang berhubungan dengan usaha pencapaian tugas, dengan informasi yang jelas, pegawai akan lebih mudah dimotivasi kerjanya. Pemimpin mengakui bawahan mempunyai andil di dalam usaha pencapaian tujuan. Dengan pengakuan tersebut, pegawai akan lebih mudah dimotivasi kerjanya. Pemimpin yang memberikan otoritas atau wewenang kepada pegawai bawahan utnuk sewaktu-waktu dapat mengambil keputusan terhadap pekerjaan yang akan dilakukannya, akan membuat pegwai yang bersangkutan menjdi termotivasi untuk mencapai tujuan yang diharapkan oleh pemimpin. Pemimpin memberi perhatian terhadap apa yang diinginkan pegawai bawahan, akan memotivasi guru bekerja apa yang diharapkan oleh pemimpin.

3) Mutu Pendidikan

Dari segi linguistik, kualitas berasal dari bahasa latin ‘qualis’ yang berarti ‘Sebagaimana kenyataanya ’. Definisi kualitas secara internasional (BS EN ISO 9000:2000) adalah tingkat yang menunjukkan serangkaian karakteristik yang melekat dan memenuhi ukuran tertentu (Dale, 2003:4). Sedangkan menurut American Society for quality Control kualitas adalah totalitas bentuk dan karakteristik barang atau jasa yang menunjukkan kemampuannya untuk memuaskan kebutuhan yang tampak jelas maupun tersembunyi.

Kualitas atau mutu adalah suatu terminologi subjektif dan relatif yang dapat diartikan dengan berbagai cara dimana setiap definisi bisa didukung oleh argumentasi yang sama baiknya. Secara luas mutu dapat diartikan sebagai agregat karakteristik dari produk atau jasa yang memuaskan kebutuhan konsumen atau pelanggan. Karakteristik mutu dapat diukur secara kuantitatif dan kualitatif.

Menurut Karsidi (2001:1), menjelaskan: “...Yang dimaksud mutu dalam pendidikan adalah suatu keberhasilan proses belajar mengajar yang menyenangkan dan memberikan kenikmatan bagi orang tua dan siswa sebagai pengguna jasa layanan pendidikan”.

Pengertian secara umum kualitas/mutu mengandung makna derajat (tingkat) keunggulan suatu produk (hasil kerja) baik berupa barang maupun jasa, baik yang tangible maupun yang intangible (Depdiknas, 2001). Dalam konteks pengertian mutu pendidikan, dalam hal ini mengacu pada proses pendidikan dan hasil pendidikan. Dalam “proses pendidikan” yang bermutu terlihat sebagi input, seperti : bahan ajar (kognitif,afektif atau psikomotor) , metodelogi (sesuai dengan kemampuan guru), sarana sekolah, dukungan administrasi, sarana dan prasarana. Manajemen sekolah sekolah berfungsi mengsinkronkan berbagai input tersebut atau mensinergikan semua komponen tersebut dalam interaksi (proses) kegiatan belajar mengajar baik antara guru, siswa dan sarana di kelas maupun yang berada dai luar kelas, baik dalam konteks kurikuler maupun ekstrakurikuler, baik dalam lingkup instansi maupun non-akademis dalam suasana yang mendukung proses pembelajaran.

Mutu dalam konteks “hasil pendidikan” mengacu pada prestasi yang dicapai oleh sekolah pada setiap kurun waktu tertentu (apakah setiap akhir semester, akhir tahun, 2 tahun, 5 tahun bahkan 10 tahun). Prestasi yang dicapai atau prestasi pendidikan (student achievement) dapat berupa hasil tes kemampuan akademis (misal ulangan umum, ujian nasional). Dapat pula prestasi di bidang lain seperti di cabang olah raga, seni atau ketrampilan tambahan seperti misalnya : komputer, jasa, beragam jenis teknik, dan lainnya. Bahkan prestasi dapat pula berupa sesuatu yang intangible seperti suasana disiplin, keakraban, saling menghormati, kebersihan dan lainya.

Upaya upaya peningkatan mutu pendidikan

Untuk mencapai terselenggaranya pendidikan bermutu, dikenal dengan perlunya paradigma baru pendidikan yang difokuskan pada otonomi,akuntabilitas, akreditasi dan evaluasi. Keempat pilar manajemen ini diharapkan pada akhirnya mampu menghasilkan pendidikan bermutu, (Wirakartakusumah, 2005:119 ).

1. Otonomi

Pengertian otonomi dalam pendidikan belum sepenuhnya mendapatkan kesepakatan pengertian dan implementasinya. Tetapi paling tidak, dapat dimengerti sebagai bentuk pendelegasian kewenangan seperti dalam penerimaan dan pengelolaan peserta didik dan staf pengajar/staf non akademik, pengembangan kurikulum dan materi ajar, serta penentuan standar akademik. Dalam penerapannya di sekolah, misalnya, paling tidak bahwa guru/pengajar semestinya diberikan hak-hak profesi yang mempunyai otoritas di kelas, dan tak sekedar sebagai bagian kepanjangan tangan birokrasi di atasnya.

2. Akuntabilitas

Akuntabilitas diartikan sebagai kemampuan untuk menghasilkan output dan outcome yang memuaskan pelanggan. Akuntabilitas menuntut kesepadanan antara tujuan lembaga pendidikan tersebut dengan kenyataan dalam hal norma, etika dan nilai (values) termasuk semua program dan kegiatan yang dilaksanakannya. Hal ini memerlukan transparansi (keterbukaan) dari semua pihak yang terlibat dan akuntabilitas untuk penggunaan semua sumberdayanya.

3. Akreditasi

Suatu pengendalian dari luar melalui proses evaluasi tentang pengembangan mutu lembaga pendidikan tersebut. Hasil akreditasi tersebut perlu diketahui oleh masyarakat yang menunjukkan posisi lembaga pendidikan yang bersangkutan dalam menghasilkan produk atau jasa yang bermutu. Pelaksanaan akreditasi dilakukan oleh suatu badan yang berwenang.

Untuk bisa menghasilkan mutu, menurut Slamet (2008: 76) terdapat empat usaha mendasar yang harus dilakukan dalam suatu lembaga pendidikan, yaitu :

1). Menciptakan situasi “menang-menang” (win-win solution) dan bukan situasi “kalah menang” diantara fihak yang berkepentingan dengan lembaga pendidikan (stakeholders). Dalam hal ini terutama antara pimpinan lembaga dengan staf lembaga harus terjadi kondisi yang saling menguntungkan satu sama lain dalam meraih mutu produk/jasa yang dihasilkan oleh lembaga pendidikan tersebut. 2). Perlunya ditumbuhkembangkan adanya motivasi instrinsik pada setiap orang yang terlibat dalam proses meraih mutu. Setiap orang dalam lembaga pendidikan harus tumbuh motivasi bahwa hasil kegiatannya mencapai mutu tertentu yang meningkat terus menerus, terutama sesuai dengan kebutuhan dan harapan pengguna/langganan. 3). Setiap pimpinan harus berorientasi pada proses dan hasil jangka panjang. Penerapan manajemen mutu terpadu dalam pendidikan bukanlah suatu proses perubahan jangka pendek, tetapi usaha jangka panjang yang konsisten dan terus menerus. 4).Dalam menggerakkan segala kemampuan lembaga pendidikan untuk mencapai utuk yang ditetapkan, harus dikembangkan adanya kerjasama antar unsur-unsur pelaku proses mencapai hasil mutu.

Dalam kerangka manajemen pengembangan mutu terpadu, usaha pendidikan tidak lain adalah merupakan usaha “jasa” yang memberikan pelayanan kepada pelangggannya, yaitu mereka yang belajar dalam lembaga pendidikan dan juga luar lembaga pendidikan. Para pelanggan layanan pendidikan terdiri dari berbagai unsur paling tidak empat kelompok (Sallis, 2005:137). Mereka itu adalah pertama, yang belajar, bisa merupakan mahasiswa/pelajar/murid/peserta belajar yang biasa disebut klien/pelanggan primer (primary external customers). Mereka inilah yang langsung menerima manfaat layanan pendidikan dari lembaga tersebut. Kedua, para klien terkait dengan orang yangmengirimnya ke lembaga pendidikan, yaitu orang tua atau lembaga tempat klien tersebut bekerja, dan mereka ini kita sebut sebagai pelanggan sekunder (secondary external customers). Pelanggan lainnya yang ketiga bersifat tersier adalah lapangan kerja bias pemerintah maupun masyarakat pengguna output pendidikan (tertiary external customers).Selain itu, yang keempat, dalam hubungan kelembagaan masih terdapat pelanggan lainnya yaitu yang berasal dari intern lembaga; mereka itu adalah para guru/dosen/tutor dan tenaga administrasi lembaga pendidikan, serta pimpinan lembaga pendidikan (internal customers). Walaupun para guru/dosen/tutor dan tenaga administrasi, serta pimpinan lembaga pendidikan tersebut terlibat dalam proses pelayanan jasa, tetapi mereka termasuk juga pelanggan jika dilihat dari hubungan manajemen. Mereka berkepentingan dengan lembaga tersebut untuk maju, karena semakin maju dan berkualitas dari suatu lembaga pendidikan mereka akan diuntungkan, baik kebanggaan maupun finansial.

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Mutu Pendidikan

Agar fungsi pendidik sebagai motivator, inspirator dan fasilitator dapat dilakonkan dengan baik, maka pendidik perlu memahami faktor-faktor yang dapat mempengaruhi proses dan hasil belajar subjek didik. Menurut Depdikbud (1985: 11), faktor-faktor itu lazim dikelompokkan atas dua bagian, yaitu faktor fisiologis dan faktor psikologis

1. Faktor fisiologis

Faktor-faktor fisiologis ini mencakup faktor material pembelajaran, faktor lingkungan, faktor instrumental dan faktor kondisi individual subjek didik. Material pembelajaran turut menentukan bagaimana proses dan hasil belajar yang akan dicapai subjek didik. Karena itu, penting bagi pendidik mempertimbangkan kesesuaian material pembelajaran dengan tingkat kemampuan subjek didik, juga melakukan gradasi material pembelajaran .

Faktor lingkungan, yang meliputi lingkungan alam dan lingkungan sosial, juga perlu mendapat perhatian. Belajar dalam kondisi alam yang segar selalu lebih efektif dari pada sebaliknya. Demikian pula, belajar pada pagi hari selalu memberikan hasil yang lebih baik dari pada sore hari. Sementara itu, lingkungan sosial yang hiruk pikuk, terlalu ramai, juga kurang kondusif bagi proses dan pencapaian hasil belajar yang optimal.

Faktor lainya adalah instrumental, baik yang tergolong perangkat keras maupun perangkat lunak Perangkat keras seperti perlangkapan belajar, alat praktikum, buku teks dan sebagainya.

Faktor fisiologis lainnya yang berpengaruh terhadap proses dan hasil belajar adalah kondisi individual subjek didik sendiri. Termasuk ke dalam faktor ini adalah kesegaran jasmani dan kesehatan indra. Subjek didik yang berada dalam kondisi jasmani yang kurang segar tidak akan memiliki kesiapan yang memadai untuk memulai tindakan belajar.

2. Faktor Psikologis

Faktor-faktor psikologis yang berpengaruh terhadap proses dan hasil belajar jumlahnya banyak sekali, dan masing-masing tidak dapat dibahas secara terpisah. Perilaku individu, termasuk perilaku belajar, merupakan totalitas penghayatan dan aktivitas yang lahir sebagai hasil akhir saling mempegaruhi antara berbagai gejala, seperti perhatian, pengamatan, ingatan, pikiran dan motif. Berbagai gejala tersebut saling terkait dan sangat mempengaruhi tingkat keberhasilan peserta didik.

G. Hipotesis

Dengan melihat dasar pemikiran tersebut diatas dan pengamatan dari penulis maka penulis mengajukan hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1) Budaya sekolah berpengaruh positif terhadap mutu pendidikan.

2) Motivasi kerja guru berpengaruh positif terhadap mutu pendidikan.

3) Budaya sekolah dan motivasi kerja guru secara bersama sama berpengaruh positif terhadap mutu pendidikan.

H. Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode analitik deskripsi kuantitatif dan verifikatif. Metode deskriptif yaitu metode yang menggambarkan fakta dan kejadian pada objek yang diteliti dan verifikatif yaitu metode yang dilakukan untuk menguji hipotesis dengan menggunakan perhitungan dari statistik dengan Software SPSS (Statistical Program Smart Solution) Ver.17.0 For Windows.

I. Hasil Penelitian

Penelitian ini sebagai grand theory yang menghubungkan antara budaya sekolah dan motivasi kerja guru berpedoman pada (Depdiknas, 2007), berbunyi:

“Sebagai upaya peningkatan mutu proses dan hasil pendidikan harus memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi; 1)faktor fisiologis (material pembelajaran, faktor lingkungan, faktor instrumental dan faktor kondisi individual subjek didik kondisi individual subjek didik), dan 2) faktor psikologis (perilaku belajar, penghayatan, perhatian, pengamatan, ingatan, pikiran motif)”.

Pengertian tersebut memberikan gambaran bahwa mutu pendidikan akan optimal, jika di dukung oleh budaya sekolah yang mengarah pada pembiasaan-pembiasaan akademik menekankan pada aspek karakter pendidik, siswa dan lingkungan yang bernuansa akademik. Selain itu sumber daya guru sebagai pendidik yang menjadi transper pengetahuan kepada siswa memiliki daya dukung yang kuat, sehingga jika kinerja guru rendah maka sulit untuk mencapai mutu pendidikan yang optimal. Selanjutnya hasil penelitian digambarkan sebagai beikur:

1) Budaya sekolah berpengaruh positif terhadap mutu pendidikan

Hasil pengujian besarnya pengaruh budaya sekolah terhadap mutu pendidikan termasuk kategori korelasi kuat, sebesar 76,7%, sedangkan nilai Fhitung > Ftabel hai ini menunjukan model regresi signifikan artinya Ha diterima dan Ho ditolak. Dengan demikian hipotesis pertama: “Budaya sekolah berpengaruh terhadap mutu pendidikan” dapat diterima.

2) Motivasi kerja guru berpengaruh positif terhadap mutu pendidikan

Hasil pengujian besarnya pengaruh Motivasi kerja guru berpengaruh positif terhadap mutu pendidikan termasuk kategori korelasi sedang sebesar 57,3%, sedangkan nilai Fhitung>Ftabel, hai ini menunjukan model regresi signifikan artinya Ha diterima dan Ho ditolak. Dengan demikian hipotesis kedua: “Motivasi kerja guru berpengaruh positif terhadap mutu pendidikan” dapat diterima.

3) Budaya sekolah dan motivasi kerja guru secara bersama sama berpengaruh positif terhadap mutu pendidikan.

Hasil pengujian pengaruh budaya sekolah dan motivasi kerja guru secara bersama sama berpengaruh positif terhadap mutu pendidikan termasuk kategori korelasi kuat sebesar 79,8%, sedangkan nilai Fhitung>Ftabel menunjukan model regresi signifikan artinya Ha diterima dan Ho ditolak. Dengan demikian hipotesis ketiga: “Budaya sekolah dan motivasi kerja guru berpengaruh positif terhadap mutu pendidikan” dapat diterima.

Berdasarkan uji hipotesis mengenai variabel-variabel korelasi dan regresi yang signifikan dengan kategori tinggi atau kuat. Variabel tersebut memberikan pengaruh yang dominan dibandingkan faktor-faktor lain dalam meningkatkan mutu pendidikan di SMP Wilayah Kecamatan Cigalontang Kabupaten Tasikmalaya. Hasil penelitian ini bukan merupakan hasil yang mutlak meskipun instrumen yang diberikan kepada responden telah dilakukan uji validitas dan reliabilitas, pengujian tersebut memiliki nilai toleransi (tarap kesalahan) atau nilai yang diperoleh pada tarap signifikansi tertentu. Secara ilmiah kemampuan alat ukur variabel-variabel tersebut terbatas, sampai saat ini belum ada alat ukur yang sempurna untuk mengukur variabel-variabel tersebut.

J. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang penulis lakukan di Wilayah Kecamatan Cigalontang Kabupaten Tasikmalaya, Maka secara umum mutu pendidikan yang meliputi; mutu input( Siswa,sarana prasarana,SDM ), mutu proses (Mutu Guru Mutu pembelajaran, Mutu belajar siswa, Mutu Manajerial, Mutu output (Akademik dan Non Akademik). Besarnya pengaruh budaya sekolah dan motivasi kerja guru terhadap mutu pendidikan termasuk dalam kategori korelasi kuat yaitu sebesar 79,8%, atau (rX1,X2,Y= 79,8) nilai tersebut menunjukkan pengaruh dari (X1) dan (X2) terhadap (Y) berada pada tingkat pengaruh yang kuat.

Adapun dengan melihat hasil analisis data yang disajikan pada Bab IV, maka dapat diuraikan beberapa kesimpulan, yaitu:

1. Budaya sekolah pada SMP di wilayah Kecamatan Cigalontang Kabuapaten Tasikmalaya, berdasarkan persentase jawaban responden pada variabel budaya sekolah adalah 3.461 atau rata-rata sebesar 56,55% dari seluruh pertanyaan pada variabel tersebut dengan kriteria cukup baik.

2. Motivasi kerja guru pada SMP di wilayah Kecamatan Cigalontang Kabuapaten Tasikmalaya, berdasarkan persentase jawaban responden pada variabel motivasi kerja guru adalah 3.400 atau rata-rata sebesar 72,64 % pertanyaan pada variabel tersebut dengan kriteria baik, meskipun ada beberapa indikator yang berkriteria cukup. Motivasi kerja guru dapat dikategorikan baik walaupun begitu sangat mungkin untuk ditingkatkan sangat baik.

3. Mutu pendidikan pada SMP di wilayah Kecamatan Cigalontang Kabuapaten Tasikmalaya, berdasarkan persentase jawaban responden pada variabel mutu pendidikan adalah 3.431 atau rata-rata sebesar 58,69 % dari pertanyaan pada variabel tersebut dengan kriteria cukup baik.

K. Daftar Pustaka

Cece Wijaya, Djaja Jajuri, A. Tabrani Rusyam. 1994. Upaya Pembaharuan dalam Bidang Pendidikan dan Pengajaran. Bandung:PT. Remaja Rosdakarya.

Koster. 2001.Teori dan Aplikasi Statistik dan Probabilitas. Bandung:PT Remaja Rosdakarya

Sallis, Edward, 2005. Total Quality Management in Education, Kogam Page, London.

Santoso, Singgih, 2006. Menguasai Statistik di Era Informasi dengan SPSS 15. Jakarta:Gramedia.

Sardiman, A.M. 1994. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Rajawali.

Simon Devung. 1989. Pengantar Ilmu Administrasi dan Manajemen. Jakarta:

Sumadi Suryabrata. 2006. Psikologi Kepribadian. Jakarta : CV Rajawali.

Winardi. 2001. Tenaga Terampil Masih Terbatas. Penerbit Media Grafika Jakarta.

Wursanto, Ig. 2006. Manajemen Kepegawaian 1. Yogyakarta: Kanisius.

Publikasi Departemen

Anonim, 2000. Panduan Manajemen Sekolah, Depdiknas, Dikmenum

Depdiknas. 2003. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah; Buku 1 Konsep dan Pelaksanaan. Jakarta : Direktorat SLTP Dirjen Dikdasmen,

______ 2004. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah; Buku 1 Konsep dan Pelaksanaan. Jakarta : Direktorat SLTP Dirjen Dikdasmen,

______ 2005. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah; Buku 1 Konsep dan Pelaksanaan. Jakarta : Direktorat SLTP Dirjen Dikdasmen,

______2006. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah; Buku 1 Konsep dan Pelaksanaan. Jakarta : Direktorat SLTP Dirjen Dikdasmen.

______2007. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah; Buku 1 Konsep dan Pelaksanaan. Jakarta : Direktorat SLTP Dirjen Dikdasmen,

Anonim, 2000. Manajemen Mutu Terpadu dalam Pendidikan/Kultur Sekolah,

Dokumen

Hanafiah, M. Jusuf, dkk, 1994. Pengelolaan Mutu Total Pendidikan Tinggi, Badan Kerjasama Perguruan Tinggi Negeri

Hanushek, 2000.Assesing the Effect of School reseources on the Student Performance An Update. Education an Policy Analysis.

Usman, Husaini, Peran Baru Administrasi Pendidikan dari Sistem Sentralistik Menuju Sistem Desentralistik, dalam Jurnal Ilmu Pendidikan, Februari 2004, Jilid 8, Nomor 1.

Wirakartakusumah, 1998. Pengertian Mutu Dalam Pendidikan, Lokakarya MMT IPB, Kampus Dermaga Bogor, 2-6 Maret 1998.

Internet

Edgar H Schein,. “Organizational Culture & Leadership”. MIT Sloan Management Review. (http://www.tnellen.com/ted/tc/schein.html) 23 Oktober 2010.

Purwadarminta, 2007. http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php . Diakses 14 Maret 2011.

Slamet, PH. 2000. Karakteristik Kepala Sekolah Yang Tangguh, Jurnal Pendidikan, Jilid 3, No. 5 (online) (http://www.ut.ac.id diakses 20 Januari 2001).

Stolp. Leadership for School Culture. ERIC Digest, Number 91. Tahun 1994 (http://www.ed.gov/databases/ERIC_Digests/ ed370198.html).14 september 2000.

Umaedi, 2006. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah, http : // www.ssep.net/direktor.html, http : // www.perkembangan.net/directori.html, diakses 13 Maret 2011.

1 comments:

nuraeni said...

dalam kenyataan budaya lain
telah dapat merubah budaya asal'a..
sangat mempengaruhi,,
atas tidak kesadaran masyarakat'a.

Post a Comment

Bagi Pengunjung dan mengambil data dari Blog ini, Untuk Perbaikan artikel-artikel di atas DIWAJIBKAN BERKOMENTAR, Trms..Wassalam

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | JCPenney Coupons